1 dari 10 Penduduk Indonesia Idap Penyakit Hepatitis

1 dari 10 Penduduk Indonesia Idap Penyakit Hepatitis

VIRUS hepatitis A, B, C, D, dan E memengaruhi ratusan juta orang di seluruh dunia. Virus ini juga menyebabkan penyakit hati akut dan kronis, bahkan membunuh sekira 1,4 juta orang setiap tahunnya.

Menurut konsultan Gastroenterohepatologi RSCM, dr Irsan Hasan, SpPD-KGEH, tingginya angka kasus hepatitis di dunia disebabkan oleh pengetahuan masyarakat yang minim dan cenderung diabaikan. Selain itu, hepatitis sendiri merupakan salah satu penyakit yang sering muncul tanpa adanya gejala. (Baca: Hebatnya Hati, Jadikan Tubuh Sanggup Beraktivitas saat Puasa)

“Pengetahuan masyarakat masih minim tentang hepatitis dan menjadi cenderung diabaikan. Tetapi, selain itu, sebagian besar penyakit hepatitis kronik  muncul tanpa gejala,” katanya pada SOHO Global Health bertema “Hepatitis, Kenali dan Obati” di Hotel Atlet Century Park, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa 15 Juli 2014.

Lebih lanjut dr Irsan mengatakan, berdasarkan data statistik dari Hepb tahun 2011, distribusi hepatitis di dunia, 350 juta di antaranya pengidap hepatitis kronik. Sebanyak 75 persennya merupakan orang Asia. Karena itu, hepatitis masuk sebagai penyebab kematian nomor 9. Lalu, bagaimana dengan Indonesia?

“Satu dari sepuluh penduduk Indonesia mengidap hepatitis dan sebagian besar tidak menyadari sampai timbulnya komplikasi,” tuturnya. (Baca: Hepatitis Menyerang Bukan Hanya karena Virus)

Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Pengendalian Diare dan Infeksi Saluran Pencernaan, Direktorat P2ML, Ditjen PP, dan PL Kementerian Kesehatan RI, Naning Nugrahini, SKM, MKM, mengatakan bahwa berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) dari 2007 hingga 2013, tren hepatitis di Indonesia cenderung meningkat dua kali lipat.

“Terus terang, daerah yang tinggi (kasus hepatitis) itu karena penularannya mirip HIV dan kita tidak mempunyai data detail. Kita bisa asumsikan kalau daerah tersebut HIV-nya tinggi, maka kemungkinan besar hepatitisnya juga tinggi. Data dari Riskesdas kita memang kawasan Indonesia Timur termasuk lebih tinggi dibandingkan wilayah Barat,” tutupnya. (Baca: Perlemakan Hati Bisa Sebabkan Hepatitis)
(fik)


View the original article here

Kasus Bayi Pendek Indonesia Masuk Lima Besar Dunia

Kasus Bayi Pendek Indonesia Masuk Lima Besar Dunia

ANGKA stunting (tubuh pendek) pada bayi di Indonesia masih masuk lima terbesar di dunia. Sebagian besar diketahui berada di Provinsi Jawa Timur.
Menurut Direktur Bina Gizi dari Kementerian Kesehatan RI, Ir. Doddy Izwardi, MA, bayi dengan kondisi stunting tidak hanya terjadi di pedesaan, juga beberapa kota di Jawa Timur. Biasanya, stunting sendiri disebabkan kurangnya gizi saat ibu mengandung.
"Faktor ibu hamil dalam mencukup gizi, kemiskinan juga, membuat akhirnya angka bayi lahir stunting semakin tinggi," katanya usai konferensi pers “Program Peningkatan Gizi Ibu, Bayi dan Anak, Dalam Rangka Gerakan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Jawa Timur” di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (14/7/2014). (Baca : Kerajaan Belanda Bantu Masalah Gizi di Indonesia)
Lebih lanjut, selain kemiskinan, kekurangan gizi juga akibat sang ibu minim pengetahuan. Merekapun tidak sadar bahwa janin yang dikandungnya kekurangan gizi. (Baca: Kolang-Kaling Belum Pasti Cegah Cedera Lutut)
"Pola konsumsi gizinya saat bayi lahir. Pasti berbeda jadinya mereka (para ibu-red) kalau tahu. Memberikan anak itu jangan hari ini sudah karbohidrat, besok karbohidrat lagi, ya pasti gemuk. Yang bayi butuhkan makanan dengan kelengkapan komposisinya; ada protein, lemak, karbohidrat, dan serat," tutupnya. (Baca: Hati-hati, Pakai High Heels Bikin Cedera Lutut)
(fik)

View the original article here

Kerajaan Belanda Bantu Masalah Kurang Gizi di Indonesia

Kerajaan Belanda Bantu Masalah Kurang Gizi di Indonesia

MESKI standar kehidupan di Indonesia sudah meningkat, permasalahan kurang gizi pada ibu, bayi, dan anak masih menjadi fokus utama Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hal ini bisa dilihat dari tingginya angka masalah kekurangan gizi pada ibu dan anak usia enam sampai 24 bulan, serta angka balita pendek pada bayi.

Berangkat dari latar belakang tersebut, Kerajaan Belanda tergerak ikut membantu meningkatkan gizi ibu, bayi, dan anak di Indonesia, dengan memberi dana USD3 juta selama tiga tahun (2014-2016). Upaya yang diinisiasi oleh Global Alliance for Improved Nutrition (GAIN) ini akan diberikan dengan kerjasama Kementerian Kesehatan RI yang mengadakan rangkaian kegiatan di Provinsi Jawa Timur.

"Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA menyambut baik dukungan Pemerintah Kerajaan Belanda dalam gerakan 1.000 HPK yang merupakan program pemerintahan dan sudah dicanangkan oleh Presiden melalui Peraturan Presiden No. 42/2013 mengenai Gerakan Nasional Percepatan Perbaikan Gizi. Kami senang bisa bekerjasama yang baik dengan GAIN untuk menerjemahkan tujuan gerakan ini dalam rangkaian kegiatan yang nyata,” kata Ir. Doddy Izwardi, MA, Direktur Bina Gizi Kemenkes dalam Konferensi Pers: Program Peningkatan Gizi Ibu, Bayi dan Anak, Dalam Rangka Gerakan 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) di Jawa Timur di Hotel JS Luwansa, Jakarta, Senin (14/7/2014)

Sementara itu, Country Manager GAIN Indonesia Ravi Menon mengatakan bahwa aksi peningkatan gizi akan dilaksanakan melalui serangkaian kegiatan di Kabupaten Sidoarjo dan Malang. Dua kota tersebut dipilih karena angka stunting (tubuh pendek) masih tinggi. (Baca: Manfaat Jeruk Sitrus bagi Usia Diatas 50)

"Rekomendasi dari Kementerian Kesehatan, Jawa Timur merupakan daerah yang angka stunting masih tinggi," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Duta Besar Kedutaan Kerajaan Belanda di Indonesia, Tjeerd de Zwaan, menyatakan bahwa Kerajaan Belanda merasa senang bisa ikut membantu meningkatkan gizi di Indonesia.

"Pemerintah Kerajaan Belanda senang bisa mendukung kerjasama GAIN dan Kementerian Kesehatan dalam rangka gerakan 1.000 HPK melalui dana bantuan untuk rangkaian kegiatan percontohan di Jawa Timur. Kami berharap lewat progam ini, tingkat gizi balita di Indonesia bisa menunjukkan kemajuan ke arah peningkatan status," terangnya.

Adapun pada pelaksanaannya, program kerjasama ini akan diwujudkan melalui pelayanan kesehatan, kampanye perubahan prilaku dalam praktek pemberitan ASI, dan pemberian makan pada bayi dan anak, aktifasi masyarakat maupun konseling individual, perbaikan akses untuk air minum melalui sistem penyaringan air minum berkualitas tinggi, dan intervensi kesehatan dan kebersihan lainnya.

Sementara, mitra lain yang terlibat dalam pelaksanaan ini, mulai dari LSM maupun sektor swasta seperti Save The Children. Mereka akan bekerja sama dengan dinas kesehatan setempat untuk melakukan penguatan layanan gizi di Puskesmas dan Posyandu. Kemudian, Spektra yang membantu pelaksanaan aktivasi perubahan perilaku di tingkat masyarakat, dan Nazava dalam kegiatan peningkatan kualitas air minum. (fik)


View the original article here